Profetik

Obat Ilegal

gambar hanya ilustrasi

Maraknya peredaran obat ilegal di Indonesia membuktikan masih lemahnya pertahanan Indonesia dari serbuan hal-hal yang membahayakan masyarakat. Ribuan obat ilegal tiap tahunnya ditemukan beredar di berbagai wilayah di Indonesia. Sebanyak 622 kotak produk obat-obatan yang datang dari luar negeri ditarik dari peredaran di sejumlah toko di Kota Pangkalpinang karena masuk secara ilegal. Pada Agustus 2010, di Bandung 46 merk obat ditarik. Kepala BPOM Kustantinah menjelaskan, sebagian besar hasil temuan pengawasan merupakan produk illegal atau tidak terdaftar di BPOM. Dari 46 merek obat yang diamankan, 38 diantaranya mencatumkan nomor ijin edar fiktif. Obat tradisional yang ditetapkan ilegal oleh BPOM tersebut, sebagian besar produsennya mengklaim pembuatannya di Cilacap Jawa Tengah. Ada pula obat yang menyatakan tempat pembuatannya di Surabaya, Banyuwangi, Magelang, Jakarta, hingga Malaysia (Radar Bandung, 14 Agustus 2010). Pada Senin, 15/11/2010 sebanyak 6.842 obat keras ilegal yang biasa dijual puskesmas juga diamankan Satuan Reserse Narboba (Satreskoba) Polres Pasuruan. Ribuan butir obat keras ilegal itu diamankan dari empat pelaku di Pasuruan.

Mengapa disebut obat ilegal?

1. ijin edar palsu dan tidak memiliki nomor registrasi

2. obat yang kandungannya tidak sesuai dengan tulisan yang tercantum dalam kemasan

3. obat yang standarnya tidak sesuai klaim

4. obat palsu

5. penyalahgunaan obat

6. obat yang telah kadaluarsa dan dijual kembali

7. obat impor yang masuk secara ilegal, karena tidak berkoordinasi dengan pihak BPOM dan tidak berlabel bahasa Indonesia.

8. obat tradisional yang mengandung bahan obat kimia (BOK)

Contoh obat ilegal

  1. Obat yang sering dipalsukan : obat dari perusahaan farmasi Pfizer, terutama  obat anti impotensi, Viagra, dan obat penurun kolesterol, Lipitor.
  2. Obat impor : merek ‘Pihang Sung’, ‘Pia P Wan’, ‘Zambuk’, ‘Sahe Hiki’ dan merek lainnya.
  3. Obat tradisional yang mengandung BOK : Sebelum 2007, tren peredaran obat illegal mengarah pada obat rematik dan penghilang rasa sakit yang mengandung fenilbutason dan metampiron. Tren produk obat yang beredar tahun 2010 mengarah pada obat pelangsing dan penambah stamina. Berdasarkan press release dari hasil uji laboratorium BPOM sebelumnya, obat tradisional yang ditemukan di pabrik obat Sumedang Jawa Barat mengandung bahan kimia obat Sibutramin Hidroklorida, Sildenafil Sitrat, Siproheptadin, Fenilbutason, Asam Mefenamat, Prednison, Metil Testosterone, Deksametason, Metampiron, Teofillin, dan Parasetamol yang membahayakan kesehatan manusia bila konsumsinya tidak berdasarkan resep dokter.

Apa akibat mengkonsumsi obat-obat ilegal? Obat ilegal sering kali mengandung zat kimia berbahaya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa perdagangan obat ilegal lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang. Sebagai contoh, obat bermerek ‘Sahe Hiki’ sejenis obat kuat namun mengandung zat kimia yang membahayakan bagi jantung. Obat ilegal yang diedarkan oleh masyarakat umum tanpa surat ijin pun bisa membahayakan karena mereka tidak mengerti dosis obat yang harus diminum oleh orang yang sakit. Obat-obat tradisional yang mengandung BOK seperti yang telah disebutkan di atas memang seringkali ces pleng, tapi justru itu yang membawa efek samping. Jika dikonsumsi berlebihan juga merusak organ tubuh. Misalnya jamu pegel linu yang ditambahkan prednison jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama akan menimbulkan gejala seperti moon face (wajah seperti suku mongol), gemuk, dan osteoporosis.

Mengapa obat ilegal masih beredar? Masih beredarnya obat ilegal menjadi masalah bersama yang kemungkinan ditimbulkan oleh beberapa sebab mulai dari masalah birokrasi hingga individu. Dari tataran birokrasi negara kita, muncul masalah ‘rahasia umum’; korup yang dilakukan oknum pejabat terkait yang mudah disuap oleh oknum pengusaha. Peredaran obat ilegal semakin marajalela dengan kurangnya pengetahuan atau pendidikan masyarakat maupun petugas kesehatan tentang info terbaru untuk membedakan barang legal dan ilegal. Mahalnya harga obat juga menjadi pemicu diproduksinya obat-obat ilegal yang berharga jauh lebih murah. Pola pikir masyarakat yang tidak memiliki ASKES menginginkan barang terbaik dengan harga semurah-murahnya, juga produsen nakal yang mencari untung tanpa mempedulikan dampak mengkonsumsi ‘obat-obat tidak jelas’ menambah daftar panjang produk obat-obat ilegal.

Lalu, bagaimana menanggulangi maraknya obat-obat ilegal? BPOM sebagai badan yang berwenang mestinya merahasiakan rencana setiap operasi pemeriksaan obatnya agar tidak bocor ke publik sebelum dilaksanakannya operasi. BPOM juga tidak bisa begitu saja melemparkan tanggungjawab pada Bea Cukai untuk mencegah masuknya obat-obatan ilegal seperti yang telah di-Press Conference- di media massa. Harusnya ada pengawasan ketat bersama oleh petugas BPOM dan Bea Cukai di situs-situs yang rentan untuk pengiriman barang ilegal terutama obat-obatan. Masalah wajib label berbahasa Indonesia bagi produk impor perlu diperhatikan. Masyarakat yang ingin membedakan obat asli dan palsu secara instan dapat melihat pencantuman kode produksi, waktu kadaluarsa obat, alamat perusahaan, logo perusahaan yang asli, dan biasanya obat asli yang didistribusikan secara legal terdapat di APOTEK (bukan toko obat). perbedaan toko obat dan apotik yang signifikan adalah obat-obat paten seperti obat keras (termasuk di dalamnya, obat untuk darah tinggi, diabetes, jantung, dan penyakit serius lainnya, biasanya logo berbentuk bulatan merah disertai huruf k di tengahnya) yang harus ditebus dengan resep dokter dan obat bebas dapat diperoleh di apotik secara legal, sementara di toko obat hanya dijual obat yang diklasifikasikan sebagai obat bebas seperti obat flu, demam, pusing dan obat-obat yang tidak diresepkan oleh dokter (biasanya terdapat logo berbentuk bulatan berwarna hijau pada kemasan obat bebas) serta obat bebas terbatas (logo bulatan berwarna biru) seperti salep-salep tertentu, atau obat flu dengan kandungan yang lebih keras, dan obat-obat bebas yang cara pemakaiannya dengan cara khusus. Sehingga, dengan demikian jika ingin mendapatkan obat yang terjamin kelegalannya dapat diperoleh di Apotik yang terpercaya (biasanya apotik telah teruji sistemnya dan bisnisnya terus berkembang sampai sekarang). Untuk mengatasi masalah mahalnya harga obat yang harus ditebus, diusahakan agar masyarakat tetap menjaga kesehatan. Mencegah lebih baik daripada mengobati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>